Selasa, 07 Maret 2017

"Duabelas Perempuan di Tahun Keduabelas", oleh Subcomandante Marcos

Terjemahan ini pertama kali dimuat di Subcomandante Marcos, Bayang Tak Berwajah: Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista, terjmh. dan kompilasi Ronny Agustinus  (Yogyakarta: Insist Press, 2003), hlm. 255-261.



Selang tahun keduabelas EZLN, puluhan kilometer, dan jarak maha jauh dari Peking, 12 orang perempuan berkumpul tanggal 8 Maret dengan wajah-wajah terhapus…

1. Kemarin…
Seraut wajah terbalut hitam masih menyisakan mata dan beberapa helai rambut yang terjuntai dari kepala. Dalam tatapan itu terbersitlah seorang yang mencari. Karaben M-1 digenggam di depan, dalam kuda-kuda yang dinamakan “penyerangan”, dan sepucuk pistol tersarung di pinggang. Di sisi kiri dada perempuan itu, tempat harapan dan keyakinan bersemayam, tersematlah pangkat Mayor Infantri pasukan tentara pemberontak, yang pada subuh 1 Januari 1994 menamai diri mereka Tentara Pembebasan Nasional Zapatista. Di bawah komandonya, berdiri sepasukan pemberontak yang menduduki San Cristóbal de las Casas, bekas ibukota negara bagian Chiapas, Meksiko Tenggara. Alun-alun San Cristóbal senyap. Hanya lelaki dan perempuan pribumi yang dikomandoi­nyalah yang jadi saksi saat Mayor itu, seorang perempuan pemberontak suku Tzotzil, merebut bendera nasional dan memberikannya kepada komandan-komandan pergerakan, mereka yang disebut “Komite Klandestin Revolusioner Adat”. Di radio, sang Mayor berucap: “Bendera telah kami selamatkan. 10-23 ganti.” 1 Januari 1994, pukul 02.00 waktu tenggara, atau pukul 01.00 tahun baru di belahan dunia lainnya, dan ia telah menunggu 10 tahun lamanya untuk bisa mengucapkan kalimat tersebut. Ia tiba di pegunungan rimba raya Lacandon bulan Desember 1984. Belum genap 20 tahun usianya, namun sekujur tubuhnya telah membawa bekas-bekas riwayat penindasan penduduk adat. Bulan Desember 1984, perempuan coklat ini berkata “Cukup sudah!”, namun ia mengucapkannya begitu lirih sampai cuma ia seorang yang mendengar. Bulan Januari 1994, perempuan ini beserta sekian ribu penduduk adat bukan cuma mengucapkan, namun meneriakkan lantang-lantang “Cukup sudah!”, sampai seluruh dunia mendengar mereka…
Di luar San Cristóbal, sekelompok pemberontak lainnya yang dikomandoi seorang pria –satu-satunya yang berkulit terang dan berhidung besar di antara penduduk pribumi yang menyerbu kota—baru saja rampung mengambil alih markas besar kepolisian. Dari penjara yang tersembunyi itu dibebaskanlah orang-orang pribumi yang menghabiskan malam tahun baru di bui akibat kejahatan terberat di wilayah tenggara Chiapas: jadi orang miskin. Eugenio Asparuk, suku Tzetzal, adalah nama Kapten pemberontak yang bersama-sama si hidung besar mengawasi penggeledahan dan penyitaan markas besar tersebut. Saat pesan sang Mayor tiba, Kapten pemberontak Pedro, suku Chol, telah selesai mengambil alih markas besar Polantas Federal dan mengamankan jalan raya yang menghubungkan San Cristóbal dengan Tuxtla Gutierrez. Kapten pemberontak Ubilio, suku Tzeltal, telah menguasai jalan masuk sisi utara kota berikut simbol uluran tangan pemerintah pada masyarakat adat, Institut Adat Nasional. Kapten pemberontak Guillermo, suku Chol, mengambil posisi di titik tertinggi kota. Dari situ ia memberi aba-aba dengan tatapannya. Rasa kaget yang tercekat mengintip dari balik jendela rumah-rumah dan gedung-gedung. Kapten pemberontak Gilberto dan Noe, masing-masing suku Tzotzil dan Tzeltal, tapi sama-sama pembangkang, mengakhiri pendudukan markas besar kepolisian hukum negara bagian lantas membakarnya sebelum berbaris mengamankan sisi kota yang mengarah menuju barak-barak Zona Militer ke-31 di Rancho Nuevo.
Pukul 02.00 waktu tenggara, 1 Januari 1994, lima petinggi pemberontak, lelaki-lelaki pribumi, mendengar di radio suara pimpinan mereka, seorang perempuan pribumi pemberontak yang berucap, “Bendera telah kami selamatkan. 10-23 ganti.” Mereka mengulanginya pada pasukan mereka, semua lelaki perempuan pribumi pemberontak, lantas menerjemahkan ucapan berikut “Kita telah mulai…”
Di istana kotapraja, sang Mayor mengorganisir posisi pertahanan guna melindungi orang-orang yang kini memerintah kota—kota yang sekarang ada dalam kekuasaan pemberontak pribumi. Seorang perempuan bersenjatalah yang melindungi mereka.
Di antara para komandan pemberontak ada seorang perempuan imut, bahkan lebih imut ketimbang mereka yang di sekitarnya. Seraut wajah terbalut hitam masih menyisakan mata dan beberapa helai rambut yang terjuntai dari kepala. Dalam tatapan itu terbersitlah seorang yang mencari. Senapan laras pendek kaliber 12 tergantung di punggungnya. Mengenakan gaun tradisional perempuan San Andrés, Ramona turun gunung bersama seratus lebih perempuan lainnya, menuju San Cristóbal di malam terakhir tahun 1993 itu. Bersama Susana dan lelaki-lelaki adat lainnya ia adalah bagian dari komando perang Indian yang pada tahun 1994 melahirkan Komite Klandestin Revolusioner Adat - Komando Jenderal EZLN. Nantinya, Comandanta Ramona dengan imut tubuhnya dan kecerdasannya akan mengejutkan pers internasional saat ia muncul di sela Dialog Perdamaian pertama yang diselenggarakan di Katedral. Ia keluarkan dari tas ranselnya, bendera nasional yang direbut sang Mayor tanggal 1 Januari itu. Ramona tak tahu kapan, begitu pula kita, tapi dalam tubuhnya berdiam penyakit yang menggerogoti dirinya dalam gigitan-gigitan lebar, yang meredupkan suara dan tatapan matanya. Ramona dan sang Mayor, perempuan satu-satunya dalam delegasi Zapatista yang tampil di hadapan dunia, untuk pertama kalinya mencanang­kan: “Demi segala niat dan tujuan kami telah mati, kami tak berarti apa-apa.” Dengan ini mereka belum memperhitungkan segala jenis pelecehan dan keterbelakangan. Sang Mayor menerjemah­kan untuk Ramona pertanyaan para wartawan. Ramona mengangguk dan mengerti, seakan-akan jawaban yang diminta darinya telah ada di sana, dalam tubuh imut yang menertawakan bahasa Spanyol dan perilaku wanita kota. Ramona tertawa seakan tidak tahu dirinya sedang sekarat. Andaipun tahu, ia tetap tertawa. Sebelum ini ia tidak eksis bagi siapapun, sekarang ia eksis, sebagai seorang perempuan, sebagai seorang perempuan adat, sebagai seorang perempuan pemberontak. Sekarang Ramona hidup, perempuan dari ras yang harus mati terlebih dulu untuk bisa hidup…
Sang Mayor mengawasi cahaya memenuhi jalan-jalan San Cristóbal. Para prajuritnya mengorganisir pertahanan kota tua Jovel dan perlindungan bagi para penduduknya yang sedang lelap tertidur, orang-orang pribumi dan mestizo, yang sama-sama terkejut. Sang Mayor, perempuan pribumi pemberontak ini telah menduduki kota mereka. Ratusan penduduk pribumi bersenjata mengepung kota tua. Seorang perempuan bersenjatalah yang memimpin mereka…
Sekian menit kemudian para pemberontak menduduki Las Margaritas, sekian jam setelahnya pasukan pemerintah yang mempertahankan Ocosingo, Altamirano, dan Chanal menyerah. Huixtan dan Oxchuc direbut oleh sekelompok prajurit yang menuju ke arah penjara utama San Cristóbal. Tujuh kota sekarang ada dalam genggaman kelompok pemberontak yang tunduk pada 7 kata sang Mayor:
Perang demi kata-kata sekarang telah dimulai…
Di tempat berbeda, para perempuan lainnya yang sama-sama pribumi dan sama-sama pembangkang, telah menyusun ulang potongan sejarah yang diberikan pada mereka. Potongan yang sampai tanggal 1 Januari 1994 itu selalu dibopong dalam kebisuan. Tak juga nama ataupun rupa mereka punya:
IRMA. Kapten Infantri Pemberontak. Irma, perempuan suku Chol, membawahi sepasukan gerilya yang merebut alun-alun Ocosingo tanggal 1 Januari 1994 itu. Dari salah satu sisi taman kota, bersama tentara-tentara yang dikomandoinya, ia menyerang garnisun yang terletak dalam istana kotapraja sampai mereka menyerah. Lantas Irma menggerai kepang rambutnya. Rambut itu terjatuh ke pinggang seakan berkata “inilah aku, yang baru dan merdeka”. Rambut Kapten Irma bersinar, dan terus bersinar walau malam telah menyelimuti Ocosingo yang ada dalam genggaman kaum pemberontak…
LAURA. Kapten Infantri Pemberontak. Suku Tzotzil. Gigih dalam perang dan gigih dalam belajar-mengajar. Laura menjadi kapten dalam unit yang beranggotakan lelaki semua. Bukan cuma itu, merekapun semuanya anggota baru. Dengan sabar, sesabar gunung yang melihatnya tumbuh dewasa, Laura mengajar dan memberi perintah. Kalau lelaki-lelaki yang dibawahinya itu ragu, ia memberi contoh dengan mengerjakannya sendiri. Tak ada yang menggotong beban dan berjalan kaki sebanyak dia. Setelah penyerbuan Ocosingo, ia memerintahkan unitnya mundur. Begitu teratur dan beres. Wanita berkulit terang ini jarang bicara, tapi ia menggenggam di tangannya sepucuk karaben yang direbutnya dari seorang polisi yang memandang seorang wanita dusun tak lebih dari sosok untuk dihina atau diperkosa. Setelah menyerah, polisi itu kabur dalam celana kolornya, persis mereka lainnya yang sampai hari itu percaya bahwa wanita cuma berguna di dapur atau untuk dihamili…
ELISA. Kapten Infantri Pemberontak. Ibarat piala perang, ia membawa dalam tubuhnya pecahan-pecahan mortir yang tertanam selamanya di situ. Ia sedang mengatur pasukannya tatkala barisan pemberontak terputus dan sebuah bola api menggulung pasar Ocosingo dengan darah. Kapten Benito terluka dan kehilangan matanya. Sebelum pingsan, ia sempat memberi penjelasan dan aba-aba: “Aku kena, Kapten Elisa ambil alih”. Kapten Elisa sendiri telah terluka saat ia berhasil membawa segerombolan prajurit keluar dari pasar itu. Kalau Kapten Elisa, perempuan suku Tzeltal itu memberi perintah, suaranya cuma menggumam lirih… tapi tiap orang patuh…
SILVIA. Kapten Infantri Pemberontak. Ia terperangkap 10 hari di Ocosingo yang telah jadi sarang tikus sejak tanggal 2 Januari itu. Menyamar sebagai warga negara biasa, ia berlari tergesa-gesa sepanjang kota yang penuh berisi tentara federal, tank, dan meriam. Di satu pos penjagaan militer ia diberhentikan. Tapi segera saja mereka membolehkannya lewat. “Tak mungkin wanita semuda dan selembut itu anggota pemberontak”, kata tentara-tentara itu saat melihatnya pergi. Sesudah bergabung kembali bersama unitnya di pegunungan, perem­puan suku Chol ini tampak murung. Dengan hati-hati, aku tanya kenapa gelak tawanya berku­rang. “Di Ocosingo situ,” jawabnya dengan kepala tertunduk, “di Ocosingo kutinggalkan ranselku berisi semua kaset lagu yang telah kukoleksi, kini kita tak punya apa-apa.” Senyap, kepedihannya tergolek di tangannya. Aku tak berkata apa-apa, kusampaikan belasungkawaku dan kulihat dalam perang tiap-tap orang kehilangan apa yang paling ia cintai…
MARIBEL. Kapten Infantri Pemberontak. Ia mengambil alih stasiun radio Las Margaritas saat unitnya menyerbu kotapraja itu tanggal 1 Januari 1994. Sembilan tahun penuh ia hidup di pegunungan untuk bisa duduk di depan mikrofon dan mengucapkan: “Kami ini hasil dari 500 tahun perjuangan; pertama kami berjuang melawan perbudakan…” Transmisinya tak berjalan baik karena alasan-alasan teknis, dan Maribel pindah posisi untuk melindungi sisi belakang unitnya yang bergerak menuju Comitan. Berhari-hari sesudahnya ia bertugas sebagai penjaga tawanan perang, Jenderal Absalon Castellanos Dominguez. Maribel suku Tzeltal dan umurnya belum genap 15 tahun saat ia tiba di pegunungan Meksiko Tenggara. “Masa terberat dalam 9 tahun itu adalah saat aku harus mendaki bukit pertama yang dijuluki ‘bukit akhirat’, sesudah itu semuanya gampang,” kata perwira pemberontak ini. Tatkala Jenderal Castellanos Dominguez dikembalikan ke pemerintah, Kapten Maribel adalah pemberontak pertama yang melakukan kontak dengan pemerintah. Komisaris Manuel Camacho Solis mengulurkan tangan padanya dan bertanya berapa umurnya. “502,” jawab Maribel, yang menghitung tahun keseluruhan sejak pemberontakan dimulai…
ISIDORA. Infantri Pemberontak. Isidora pergi ke Ocosingo sebagai tamtama di hari pertama bulan Januari itu. Dan sebagai tamtama Isidora meninggalkan Ocosingo yang bermandi api, setelah berjam-jam lamanya berjuang menyelamatkan unitnya, sekitar 40 orang lelaki yang terluka. Dia juga menyimpan pecahan-pecahan mortir di lengan dan kakinya. Saat Isidora tiba di unit perawatan untuk menyerahkan mereka yang terluka, ia meminta sedikit air dan bangkit berdiri lagi. “Mau ke mana kau?” tanya mereka sambil mencoba mengobati luka-luka yang merobek-melukisi wajahnya serta memerahkan seragamnya. “Menjemput yang lain,” jawab Isidora sambil mengokang lagi. Mereka mencoba menghentikannya tapi tak mampu. Tamtama Isidora bersikukuh ia harus kembali ke Ocosingo menyelamatkan compañeros lainnya dari nada-nada kematian yang dialunkan oleh mortir dan granat. Mereka sampai harus memenjara­kannya untuk menghentikannya. “Paling tidak saat aku dihukum aku tidak turun pangkat,” kata Isidora sembari menunggu dalam kamar yang baginya tampak seperti kurungan. Berbulan-bulan kemudian, saat mereka menganugerahinya bintang jasa yang menaikkannya jadi perwira infantri, Isidora, seorang Tzeltal dan Zapatista, menatap bintang itu terlebih dahulu lalu menatap komandannya, dan bertanya seakan-akan ia sedang dihina “Kenapa?”… Tapi ia tidak menunggu jawabannya…
AMALIA. Letnan satu di unit rumah sakit. Amalia punya gelak tawa tercepat di seluruh wilayah Tenggara Meksiko. Saat ia menjumpai Kapten Benito tergeletak tak sadar bergenang darah, ia menyeretnya ke tempat yang lebih aman. Ia menggendongnya di punggung dan membawanya keluar dari lingkaran kematian yang mengitari pasar. Tatkala seseorang mengusulkan untuk menyerah, Amalia, taklid akan darah Chol yang mengalir di nadinya, naik pitam dan mulai membantah. Tiap orang menyimak, sekalipun di atas mereka ledakan-ledakan begitu bengis dan peluru-peluru berdesingan. Tak seorang pun menyerah…
ELENA. Letnan di unit rumah sakit. Saat bergabung dengan EZLN ia buta huruf. Di sana ia belajar membaca, menulis, serta apa yang disebut obat-obatan. Dari mengobati diare dan menyuntikkan vaksin, ia kini menangani mereka yang terluka di rumah sakit kecil yang sekaligus jadi rumah, gudang, dan farmasi. Dengan jerih payah ia mengeluarkan cuilan-cuilan mortir yang dibawa orang-orang Zapatista di tubuh mereka. “Ada yang bisa aku buang, ada yang tidak,” kata Elena, suku Chol pemberontak, seolah-olah ia sedang membicarakan kenangan dan bukan potongan-potongan logam…
Di San Cristóbal, pagi hari 1 Januari 1994 itu, ia bercakap dengan si hidung putih besar: “Seseorang baru saja ke mari bertanya-tanya tapi aku tak paham bahasanya, barangkali Inggris. Entah fotografer atau bukan tapi ia bawa kamera.”
“Aku segera ke sana,” kata si hidung besar sambil merapikan topeng skinya.
Ke dalam kendaraan dibawa pulalah senjata-senjata yang direbut dari markas polisi dan ia meluncur menuju pusat kota. Mereka mengeluarkan senjata-senjata itu dan membagikannya kepada penduduk-penduduk adat yang berjaga di seputar istana kotapraja. Orang asing itu turis yang bertanya apakah ia bisa meninggalkan kota. “Tidak,” jawab si topeng ski yang kelebihan hidung itu, “lebih baik kau kembali ke hotelmu. Kami tak tahu apa yang bakal terjadi.” Turis itu pergi setelah meminta izin merekam dengan kamera videonya. Seraya pagi datang, datang pulalah orang-orang yang ingin tahu, wartawan-wartawan dan pertanyaan-pertanyaan. Si hidung besar menjawab dan menjelaskannya pada penduduk setempat, turis, dan wartawan. Mayor ada di belakangnya. Si topeng ski menjawab dan bercanda. Perempuan bersenjata itu mengawasi di baliknya.
Seorang wartawan, dari balik kamera televisi bertanya: “Dan siapa Anda?” “Siapa aku,” jawab si topeng ski ragu-ragu seakan sedang melawan kantuk setelah malam berkepanjangan. “Ya,” desak si jurnalis, “siapakah Anda ini, ‘Komandan Macan’ atau “Komandan Singa’?” “Bukan,” jawab si topeng ski sambil mengucek matanya yang kini penuh berisi kejemuan. “Jadi, siapa nama Anda?” tanya si wartawan sambil menyorongkan kamera dan mikrofonnya. Si topeng ski berhidung besar itu menjawab “Marcos. Subcomandante Marcos”… Di atas kepala kapal-kapal Pontius Pilatus mulai berdengung…
Sejak itulah, kisah tertibnya aksi militer dalam pendudukan San Cristóbal mulai meremang. Terhapuslah fakta bahwa seorang perempuan, seorang perempuan dusun pembe­rontaklah yang mengkomandoi seluruh operasi. Peran serta semua perempuan dalam aksi-aksi lain tanggal 1 Januari itu, serta sepanjang 10 tahun jalan berliku lahirnya EZLN, jadi dinomorduakan. Wajah-wajah di balik topeng-topeng ski jadi makin anonim saat semua cahaya mengarah ke Marcos. Sang Mayor diam saja, ia terus menjagai sisi belakang si hidung besar yang namanya sekarang tersohor ke seluruh dunia. Tak seorang pun bertanya siapa namanya…
Subuh 2 Januari 1994, masih perempuan yang sama itu jugalah yang memimpin penarikan mundur dari San Cristóbal untuk berbalik ke pegunungan. Ia kembali ke San Cristóbal 50 hari setelahnya sebagai bagian dari rombongan pengawal yang menjaga keamanan delegasi CCRI-CG dari EZLN dalam Dialog di Katedral. Beberapa jurnalis perempuan mewawancarainya dan menanyakan namanya. “Ana Maria, Mayor Pemberontak Ana Maria,” jawabnya dengan tatapan matanya yang gelap. Ia tinggalkan Katedral dan menghilang sepanjang sisa tahun 1994 itu. Seperti compañera-compañera lainnya, ia mesti menunggu, ia mesti diam…
Tiba bulan Desember 1994, 10 tahun sejak ia menjadi tentara, Ana Maria menerima tugas menyiapkan penerobosan blokade militer yang dipasang pemerintah di sekeliling rimba raya Lacandon. Subuh 19 Desember, EZLN mengambil posisi di 38 kotapraja. Ana Maria mengkomandoi aksi di kotapraja-kotapraja Altos di Chiapas. Duabelas perwira perempuan bersamanya dalam aksi itu: Monica, Isabela, Yuri, Patricia, Juana, Ofelia, Celina, Maria, Gabriela, Alicia, Zenaida, dan Maria Luisa. Ana Maria sendiri menangani kotapraja Bochil.
Setelah penyebaran pasukan Zapatista, perwira-perwira tinggi tentara federal meme­rintahkan diam seribu bahasa atas bobolnya blokade, dan media massa menuliskannya sebagai aksi “propagandis” EZLN belaka. Harga diri kaum federal sangat terluka: Zapatista sanggup lolos dari blokade dan yang lebih menghina lagi, seorang perempuanlah yang mengkomandoi unit yang menduduki pelbagai wilayah kotapraja. Jelas hal ini tidak bisa diterima dan sejumlah besar uang harus dikucurkan agar kejadian ini tertutupi selamanya.
Karena aksi-aksi tak sengaja para compañeros bersenjatanya, serta aksi-aksi sengaja pemerintah, peran Ana Maria dan kaum perempuan Zaptista memudar dan jadi tak terlihat…

2. Hari Ini
Aku hampir rampung menuliskan ini saat seseorang lainnya tiba…
Doña Juanita. Setelah wafatnya Pak Tua Antonio, doña Juanita membiarkan ritme hidupnya melambat selambat saat ia menjerang kopi. Meski kuat secara fisik, doña Juanita mengabarkan bahwa ia akan mati. “Jangan konyol, nek,” kataku, segan menatap matanya. “Kau ini…,” jawabnya, “kalau untuk hidup kita mesti mati, maka tak satupun bisa menghalangiku mati, apalagi bocah kurang ajar sepertimu,” berkata dan mengumpatlah doña Juanita, istri Pak Tua Antonio, seorang perempuan pemberontak seumur hidupnya, dan seperti terlihat, seorang pemberontak bahkan dalam menjawab panggilan mautnya…
Dari simpang lain blokade terlihatlah…
Ia. Ia tak punya pangkat militer, seragam, ataupun senjata. Ia seorang Zapatista meski hanya ia seorang yang tahu. Ia tak punya wajah ataupun nama, seperti layaknya Zapatista. Ia berjuang demi demokrasi, kebebasan, dan keadilan, sama seperti Zapatista. Ia bagian dari apa yang dinamakan EZLN “masyarakat sipil”. Ia orang tanpa partai, orang yang tak jadi milik “masyarakat politik” yang tersusun atas aturan-aturan dan pimpinan-pimpinan partai politik. Ia sebagian dari kerumitan itu, tapi bagian sesungguhnya dari suatu masyarakat yang, hari demi hari, mengucapkan sendiri “Sudah, cukup!”
Pertama ia kaget mendengar ucapannya sendiri, tapi kemudian, berazaskan kekuatan yang timbul dari mengulang-ulangnya, dan terlebih-lebih, menghidupinya, ia tak lagi gentar akan mereka, tak lagi gentar akan dirinya sendiri. Ia kini seorang Zapatista. Ia telah menggabungkan nasibnya dengan nasib orang-orang Zapatista dalam igauan baru yang begitu menakutkan partai-partai politik dan kaum intelektual Kekuasaan: Tentara Pembebasan Nasional Zapatista. Ia telah berjuang melawan tiap orang, melawan suaminya, kekasihnya, pacarnya, anak-anaknya, temannya, saudara lelakinya, ayahnya, kakeknya. “Kau sinting,” begitulah penilaian yang lazim. Ia tinggalkan banyak hal di belakangnya. Apa yang ia tinggalkan jauh lebih besar ketimbang apa yang ditinggalkan para pemberontak lain yang memang sudah tak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. Segala sesuatunya, dunianya, menghendaki ia melupakan “orang-orang Zapatista gila itu”, dan kompromi memintanya duduk dalam ketidakacuhan nyaman yang hidup dan kuatir hanya tentang dirinya sendiri. Ia tinggalkan semuanya. Ia tak mengucapkan apa-apa. Suatu pagi buta ia meruncingkan sisi tumpul harapannya dan mulai berusaha menyamai 1 Januari milik saudari-saudari Zapatistanya berulang-ulang dalam satu hari, setidaknya 364 kali dalam setahun, yang tak ada hubungannya dengan sebuah tanggal satu Januari saja.
Ia tersenyum karena ia pernah mengagumi Zapatista dan kini tidak lagi. Ia mengakhiri kekagumannya saat ia tahu bahwa mereka hanyalah pantulan pemberontakannya sendiri, harapannya sendiri.
Ia menemukan dirinya terlahir tanggal 1 Januari 1994. Sejak itulah ia merasa hidupnya, yang selalu dikatakan sebagai mimpi dan utopi, ternyata bisa diwujudkan.
Ia mulai merajut dalam diam dan tanpa bayaran, berdampingan dengan lelaki dan perempuan lainnya, impian ruwet yang oleh beberapa orang disebut harapan: segala sesuatu untuk semua orang, tak ada yang untuk diri kami sendiri.
Ia bertemu tanggal 8 Maret dengan wajah yang terhapus dan nama yang sembunyi. Dengannya datang pula ribuan perempuan. Banyak dan kian banyak. Lusinan, ratusan, ribuan, dan jutaan perempuan seluruh dunia yang ingat ada banyak soal yang harus digarap dan masih banyak lagi yang harus diperjuangkan. Tampaknya apa yang disebut ‘martabat’ itu bisa menular dan kaum perempuanlah yang rentan terjangkiti penyakit meresahkan ini…
Tanggal 8 Maret adalah saat yang tepat untuk mengenang dan memberikan tempat yang semestinya bagi orang-orang Zapatista pemberontak itu, bagi kaum Zapatista, bagi para perempuan bersenjata maupun tak bersenjata. Bagi para pembangkang dan para perempuan Meksiko yang gelisah ditekuk-tekuk sebagai bawahan. Sejarah, tanpa mereka, tak lebih dari sekadar fabel yang dikarang secara buruk…

2. Hari Esok
Bila ada hari esok, maka ia akan disusun bersama kaum perempuan, dan terlebih lagi, oleh kaum perempuan…

Dari pegunungan Meksiko Tenggara
Subcomandante Insurgente Marcos
Meksiko, Maret 1996

Minggu, 06 November 2016

Karya-karya Fiksi tentang Pablo Neruda


Dengan mulai diputarnya di festival-festival internasional film Neruda (2016), karya anyar sutradara Cile Pablo Larrain  yang berkisah tentang Inspektur Polisi Óscar Peluchonnea (diperankan oleh Gael García Bernal) yang ditugaskan memburu penyair komunis Pablo Neruda, saya mencoba mengingat-ingat lagi karya-karya fiksi apa sajakah yang pernah dibuat tentang penyair besar satu ini.

Yang paling populer di Indonesia tentu saja adalah novel Ardiente paciencia karya Antonio Skármeta, yang bercerita tentang tukang pos pengantar surat Neruda yang berusaha belajar berpuisi dari sang maestro. Novel ini diadaptasi menjadi film berbahasa Italia yang sangat terkenal oleh sutradara Inggris Michael Radford berjudul Il Postino (1994). Terjemahan Indonesia novel Skármeta itu diterbitkan oleh penerbit Akubaca lebih dari satu dekade lalu dengan memakai judul versi filmnya.

Melihat ulasan-ulasan positif para kritikus beberapa hari belakangan yang menyanjung Neruda sebagai film yang melabrak batas-batas genre biopic, sepertinya Neruda-nya Larrain bakal melebihi kepopuleran Il Postino. Sebagai catatan, perlu disebut di sini bahwa pada 2014 lalu telah ada film berjudul Neruda karya sutradara Cile Manuel Basoalto yang juga merupakan biopic sang penyair, tetapi film ini jeblok secara kualitas maupun komersial. Selain itu, pada 2017 mendatang dokumenter Pablo Neruda: The People’s Poet semoga juga sudah dirilis sesuai jadwalnya. Dokumenter ini disutradarai dan diproduksi oleh Mark Eisner, salah satu penerjemah, penulis biografi, dan pakar Neruda paling terkemuka di dunia.

Neruda juga menjadi tokoh sentral novel detektif karya Roberto Ampuero berjudul El caso Neruda (2008), yang terjemahan Inggrisnya terbit sebagai The Neruda Case (2012). Berlatar era 1970an yang penuh gejolak politik di Cile, novel ini adalah novel keenam Ampuero dalam serial detektif Cayetano Brulé, meski mengisahkan kasus paling pertama yang ditanganinya: Neruda menugaskan si detektif mencari dokter Kuba yang pernah ditemui penyair itu pada tahun 1940an. Untuk menggambarkan sosok Neruda, Ampuero –yang selain novelis juga menjabat duta besar Cile untuk Meksiko—menggali ingatan masa kecilnya sendiri yang pada 1960an memang tinggal bertetangga dengan Neruda. Ia ingat misalnya saat sedang berjalan-jalan di hari Minggu bersama ayahnya, mereka lihat Neruda di bangku belakang mobil yang disopiri oleh seorang perempuan, sementara di bangku depan ada seorang lelaki lain mengenakan kacamata berbingkai hitam tebal. “Jangan pernah lupakan bapak-bapak itu, nak,” pesan ayahnya. “Yang satu, suatu hari nanti akan menerima Hadiah Nobel, dan yang satunya akan menjadi Presiden Cile.” Lelaki di bangku depan itu memang adalah Salvador Allende.


Lalu ada buku anak-anak/remaja karangan penulis Hispanik AS Pam Muñoz Ryan berjudul The Dreamer (2010). Buku yang sangat imajinatif ini berkisah tentang Neruda kecil (Neftali Reyes) yang terpukau pada kata-kata dan bunyi-bunyian dari dunia sekitarnya: tetes hujan, kapak ayahnya menghantami batang pohon, sepatu botnya menginjak lumpur dll. Masih untuk buku anak-anak, Neruda juga dikenalkan sejak dini bagi para pembaca bahasa Spanyol dan Inggris lewat dua buku ini: Conoce a Pablo Neruda (2012) karya Georgina Lázaro León dengan ilustrasi Valeria Cis, dan Pablo NerudaPoet of the People (2011) karya Monica Brown dengan ilustrasi Julie Paschkis.


Apa sih sesungguhnya yang bikin Neruda sepopuler itu sebagai penyair? Di antara analisa-analisa serius tentang kualitas puisinya, novelis eksil Cile Ariel Dorfman punya jawaban paling asyik: “Satu alasan mengapa Neruda selalu populer di kalangan anak muda adalah karena ia doyan sekali seks. Di tiap generasi, para lelaki, termasuk aku, pernah mengutip Neruda buat menggaet cewek.” Ya, seperti si tukang pos di novel Skármeta, atau perhatikan bagaimana puisi “Soneta XVII” Neruda dibacakan di film Patch Adams (1998) oleh Robin Williams untuk kepentingan yang sama: merayu perempuan.

Nah untuk soal satu ini, ada sisi gelap kehidupan Neruda yang mungkin jarang diketahui orang. Ketika ditugaskan sebagai diplomat di Batavia, Neruda menikahi seorang perempuan Belanda kelahiran Jawa, María Antonieta Hagenaar, dan punya seorang putri bernama Malva Marina. Malva menderita hidrosefalus (pembesaran kepala), dan Neruda menelantarkan anak dan istrinya begitu saja, sampai Malva meninggal di Belanda pada usia 9 tahun. Neruda tak pernah menyebut-nyebut sama sekali anak istrinya ini dalam semua karyanya termasuk memoarnya.

Dua penulis Belanda telah mengarang novel tentang kasus ini. Pauline Slot menulis En het vergeten zo lang / Dan Lupa Itu Lama (2010), yang pernah diterjemahkan sedikit oleh Joss Wibisono di tautan ini, sementara Hagar Peeters menulis novel Malva (2015) yang banyak dipuji kritikus sebagai karya yang cemerlang. Secara khusus, sutradara teater perempuan Cile Flavia Radrigán juga pernah mementaskan karyanya yang mengecam keras kelakuan Neruda ini berjudul Un ser perfectamente ridículo / Seseorang yang Sempurna Konyolnya (2004). Bila ingin mengetahui lebih lanjut tentang anak Neruda yang tak diakuinya ini, ada satu buku non-fiksi yang bisa dibaca berjudul El enigma de Malva Marina: la hija de Pablo Neruda (2013) karya Bernardo Reyes, keponakan Neruda sendiri.





Rabu, 10 Agustus 2016

Sampah dan Orang Sisa-sisa

Pengantar kuratorial sesi Amerika Latin oleh Ronny Agustinus, dalam ARKIPEL Jakarta International Documentary Film Festival 2016.
  
Wacana antroposen menjadi semakin populer dalam ilmu-ilmu sosial dan ekologi belakangan ini. Meski titik waktu resminya sebagai sebuah kala geologi masih perlu dipastikan, tak terbantahkan bahwa kita memang hidup di era antroposen, ketika ulah manusia—dan bukan alam—yang paling berperan dalam mengubah iklim serta paras bumi. Dan sepanjang sekitar 200 tahun terakhir, wujud antroposen tak syak lagi adalah masyarakat kapitalis industri. Dengan segenap pola produksi dan konsumsinya, kapitalisme industri di mana-mana akan berujung pada residu pamungkasnya: sampah—residu akhir yang justru membuat wacana antroposen menjadi mendesak untuk dibicarakan pada awalnya. Dan itulah yang akan menjadi tema kurasi program Amerika Latin dalam ARKIPEL social/kapital 2016 ini: sampah sebagai akhir dan juga awal pergulatan  social/kapital, sampah dalam arti fisikal maupun sosial, dan bagaimana keduanya bertalian erat.
Sampah adalah persoalan besar kota-kota Amerika Latin, dan bukan kebetulan bila sebagian filem pertama yang mengawali gebrakan Sinema Baru Amerika Latin pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an mengangkat persoalan sampah. Sebagai bagian dari usaha untuk menunjukkan realitas Amerika Latin apa adanya (dalam kerangka besar gerakan-gerakan pembebasan), lahirlah dokumenter-dokumenter macam Cantegriles (1958) dan Tire dié (1958/1960). Filem 8 menit Cantegriles karya Alberto Miller (Uruguay) tedeng aling-aling menyandingkan gambaran wilayah perumahan mewah Cantegril Country Club di Punta del Este, Uruguay, dengan wilayah kumuh di seputar tempat pembuangan sampah (yang oleh kalangan kaya dengan olok-olok disebut “cantegriles”-nya kaum miskin). Sementara Tire dié direkam di Santa Fe, Argentina, oleh sutradara Fernando Birri beserta para mahasiswanya dari Sekolah Dokumenter Santa Fe selama tiga tahun—proyek yang mereka namai “filem survei” dengan versi akhir sepanjang 33 menit.[1] Cantegriles menunjukkan kontras antara wilayah kumuh dan kaya di Punta del Este, sementara Tire dié menyeimbangkan antara kepedulian pada subjek-subjek di lokasi dengan sistem ekonomi-politik (social/kapital) yang melatarinya, yang paling gamblang tampak dalam caranya mengambil bidikan longshot dari atas untuk mendudukkan Tire dié di tengah Santa Fe seutuhnya. Kedua filem ini menjadi pelopor bahkan panutan filem-filem dokumenter sosial sejenis di kemudian hari, seperti Boca do lixo (1993) besutan Eduardo Coutinho dari Brasil.
Penyikapan atas sampah dengan demikian membutuhkan pandangan yang lebih dari sekadar pandangan teknik-teknokratik bagaimana meminimalisir sampah industri dan konsumsi. Penyikapan atas sampah membutuhkan penyikapan pula atas orang-orang dan kemiskinan di seputarnya.[2] Dua filem dokumenter memasukkan intervensi seni sebagai unsur pokok pendekatannya. Landfill Harmonic (2015) —yang ditayangkan di sini—mengisahkan bagaimana masyarakat pemulung di wilayah pembuangan sampah Cateura, Paraguay, dengan bantuan seorang konduktor orkestra, membuat alat-alat musik dari sampah yang ada, mengenal musik, lalu termanusiakan lahir-batin. Perlu dicatat bahwa tema serupa pernah digarap dalam filem Waste Land (2010) yang mengisahkan bagaimana masyarakat pemulung di wilayah pembuangan sampah terbesar sedunia[3] Jardim Gramacho, Rio de Janiro, Brasil, dengan bantuan seorang perupa dan fotografer, membuat karya-karya rupa dari sampah yang ada, mengenal seni, lalu termanusiakan lahir-batin. Tentu saja filem-filem jenis ini disanjung dan populer di “Dunia Pertama” karena meredakan gundah gulana hati pemirsa Barat yang mungkin sudah mbentoyong gara-gara terlalu berat memikul white man’s burden. Mereka melihat bagaimana akhirnya peradaban Barat (musik klasik Barat, kanon seni rupa Barat) bisa membawa kebaikan bagi kumpulan orang terpinggirkan ini. Saya tak meragukan manfaat pendekatan intervensi seni macam ini, meski premis untuk menjadikannya solusi yang berdampak panjang secara ekonomi-politis tetap saja kelewat utopis.

Di ujung yang lain, saya memilih dokumenter pendek 12 menit Ilha das Flores (1989) karya Jorge Furtado dari Brasil. Dengan montase kreatif atas materi-materi foto dan footage, buat saya inilah filem paling jitu dan menohok dalam membahas sampah sebagai residu sisa-sisa sistem produksi dan konsumsi kapitalisme global, serta “orang sisa-sisa” yang harus ada sebagai bagian inheren dari sistem. Furtado tak menyajikan impian-impian indah bahwa ada jalan keluar yang manis dari ini.
Menyandingkan keduanya saya harap memberikan perenungan dan kontras tersendiri untuk program Amerika Latin tahun ini. Maka bila paragraf terakhir pengantar tematik ARKIPEL 2016 menyebut tentang bagaimana social/kapital telah melebur status warga “dalam sebuah dunia baru (global) tanpa—atau hanya dengan samar-samar—ingatan-ingatan akan negara,” maka dua filem di atas hendak menyajikan gambaran tersebut dalam dua kutub ekstremnya: komunitas yang “makan” dari sampah dan komunitas yang secara harafiah memakan sampah, yang keduanya terjalin rapat dengan cara kapitalisme global bekerja yang membuat di layar maupun di luar layar negara tampak tidak hadir, samar-samar sekalipun.




[1] Kawasan pembuangan sampah Tire diré mendapat namanya dari seruan “Tire diez!” (“Beri aku sepuluh sen”) yang diteriakkan anak-anak manakala ada kereta lewat, seperti kawan-kawan sekampung saya dulu di Jawa Timur berteriak-teriak “Minta uang” bila ada pesawat terbang lewat.
[2] Perlu dicatat di sini dokumenter Cartoneros (2006) karya Ernesto Livon-Grosman yang membahas sampah kertas dan daur-ulangnya tanpa menampilkan gambaran klise para pemulung kumuh yang tinggal di sekitar gunungan sampah. Konteks filem ini adalah Buenos Aires awal 2000-an, ketika krisis ekonomi dan dampak korupsi sistemik membangkrutkan negara dan membuat kelas menengah terpaksa bertahan hidup dengan menjadi pemulung kertas, karton, dan dus (cartoneros”).
[3] Carlos Fuentes dalam novelnya La Silla del Águila (2003) menyebut Mexico City sebagai “el basurero más grande del mundo” (“tempat pembuangan sampah terbesar di dunia”). Secara faktual ia keliru.